Klaim “KEGILAAN” Adalah Produk Kuasa Struktural

Iwosumbar.com, Padang – Peristiwa “orang gila ” tusuk Syekh Ali Jaber saat memberikan ceramah beberapa waktu yang lalu sungguh amat menggegerkan sekaligus menyentak kemarahan manusia beradab, khususnya umat Islam .

Kemarahan itu belum juga reda, bahkan bisa makin membuncah ketika pelaku penusukan disebut sebagai “orang gila” sehingga secara hukum tidak bisa diproses.

Penyebutan “orang gila” kepada pelaku penyerangan dan penusukan para ulama bukan kali ini saja terjadi. Cukup banyak peristiwa sejenis sebelumnya, namun proses hukumnya menguap lenyap ditelan alam.

Pertanyaan publik adalah : adakah pelaku benar-benar gila ?

Michael Foucault, filsuf Perancis kontemporer, dalam bukunya yang berjudul Follie et Dèraison (1961 menyatakan bahwa klaim tentang ke gilaan adalah produk kuasa struktural. Ada kuasa pengetahuan yang mendikte teori kegilaan, sehingga kategori itu tak selamanya objektif.

Artinya, ada subjektifitas pemilik kuasa yang menentukan dan memaksakan kategori kegilaan seseorang.

Abu Al-Qosim an-Naisaburi ( w.1016 M ) seorang ahli tafsir dan hadis, sejarawan sekaligus sastrawan terkemuka dizamannya, dalam bukunya ‘Uqala’al-Majanin (Kitab kebijaksanaan Orang-orang Gila).

Menyebutkan bahwa “An-nàsu kulluhum màjànìn – semua manusia itu gila. Hanya kadar dan objek kegilaan saja yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain.

Ada beberapa macam orang gila :
– Al-ma’tùh, yaitu orang yang terlahir dalam kondisi gila.
– Al-mamrùr, yaitu orang yang akal sehatnya terbakar.
– Al-mamsùs, yaitu orang gila yang dirasuki jin dan syetan.
-Al-‘àsyiq, yaitu orang yang dibuat gila oleh rasa cinta.

Semoga kegilaan yang merugikan orang lain bisa dihentikan. Pastikan hukum bekerja demi keberlanjutan peradaban manusia, jika tidak-kita akan tersungkur dalam kebiadaban.

 

Jika pelaku penusukan benar-benar gila, maka yang paling bertanggungjawab terhadap si gila itu haruslah dimintai pertanggungjawaban hukumnya.

Selasa 15/9/2020. by.B.Dt.Panghulu Basa.

Bagikan