Warisan Yang Tercecer, 5 Jilid Buku Prof Mestika Zed Diterbitkan

IWOSUMBAR.COM, PADANG – ‘Warisan yang tercecer’ Sebanyak Lima (5) Jilid Buku Kumpulan Tulisan Sejarawan dari Universitas Negri Padang (UNP) yaitu Almarhum Prof. Mestika Zed telah diterbitkan.

Buku yang yang bisa diterbitkan setelah beliau tiada (wafat) ini dieditori oleh Armaidi Tanjung, S.Sos, MA, yang merupakan seorang wartawan dan penulis banyak bekerjasama dengan almarhum dalam beberapa kegiatan termasuk penulisan buku hasil karya almarhum Mestika Zed.

Pada buku ini juga ada “sekapur sirih” atau kata pengantar langsung dari Rektor UNP, Prof. H. Ganefri, Ph.D.

Menurut editor buku Armaidi Tanjung “ Dalam buku ini berisikan Karya-karya ini beliau presentasikan, sampaikan, paparkan, curaikan, diskusikan dalam berbagai waktu dan kesempatan seminar, lokakarya, workshop, pelatihan, undangan narasumber, bedah buku, baik di tingkat lokal, nasional, dan maupun internasional”. Karya ini berbentuk draft naskah tulisan, makalah, paper, riset dan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan focus group discussion (fgd) yang lebih dikenal sebagai diskusi terpumpun, dan sebagainya.

Rektor UNP Prof. Ganefri, Ph.D ketika menerima buku ini dari editor Armaidi Tanjung, S.Sos, MA di Rumah Dinas Rektor Senin/3 Mei 20201, meyambut baik penyusunan buku tersebut.

“Buku ini memperkaya literatur tentang nama besar seorang Mestika Zed baik dari khazanah ilmu sosial terutama Sejarah dan sekaligus dari sisi kelembagaan untuk UNP, karya-karya almarhum telah banyak mengharumkan nama lembaga kita”. Ujar Rektor.

Sementara itu, Dekan Fakutas Ilmu Sosial UNP Dr. Siti Fatimah, M.Pd, M. Hum, ketika diwawancarai, menyatakan bahwa Prof. Mestika Zed tidak saja seorang akademisi yang mumpuni tetapi juga adalah seorang praktisi yangg humanis, sensitif terhadap lingkungan.

Dikatakan, Sulit rasanya menemukan sosok yang perpeksionis seperti beliau hari ini, karena pada umumnya kita hari ini banyak terjebak pada pragmatisme, tidak saja politisi, tetapi juga termasuk akademisi.

“Pengalaman saya lebih kurang 30 tahun bersama beliau di dunia akademisi dan praktisi, banyak sedikitnya juga telah mempengaruhi karakter saya yang tidak bisa banyak basa basi. Harapan ke depan, mudah-mudahan akan muncul Mestika Zed lainnya dalam konteks yang sesuai dengan jiwa zamannya”,katanya.

Sementara, Hendri Ainsyah Koto. M.Pd seorang mantan asisten riset Prof. Mestika Zed yang saat ini Kasi SMA di Cabdin Pendidikan Wilayah II Sumbar, ketika dimintai keterangan tentang isi ke lima jilid buku itu menuliskan. Secara umum karya Prof. Mestika Zed ini bisa dikelompokan ke dalam enam kelompok sebagai berikut :

1.Penulisan sejarah, tokoh-tokoh Minangkabau yang menjadi pahlawan lokal & nasional pada masa kemerdekaan Republik Indonesia maupun masa perjuangan melawan penjajahan, seperti Sultan Alam Bagagarsyah, Mohammad Saleh Datuak Rangkayo Basa, Rangkayo Hj. Syamsidar Yahya, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Engku Muhammad Sjafei, Hamka, Muhammad Natsir, dan sebagainya.

2.Kajian terhadap Sejarah Lokal dan Sejarah Nasional Indonesia dalam pergerakan kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

3.Tinjauan terhadap sejarah dunia, sejarah Islam, dan Indonesia dalam “arus sejarah”;

4.Perkembangan kajian sejarah, teori keilmuan, dan metodologinya yang saling berjalin-berkulindan antara satu sama lainnya (sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, hukum, dan budaya.

5.Mahasiswa, perkembangan pendidikan tinggi Indonesia, dan ketentuan/peraturan terkait pendidikan tinggi Indonesia.

6.Almarhum Prof. Mestika Zed menerjemahkan karya sangat menarik tentang Minangkabau (Diseertasi Elizabeth E. Graves di Universitas Wisconsin Amerika Serikat, 1977 dan menjadi Cornell Modern Indonesia Project, 1981, Itacha, NY: Cornell Southeast Asia Program Publication). Buku yang berjudul “Asal Usul Elit Minangkabau Modern: Respon Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX” adalah sebuah karya monumental tentang Minangkabau dan akan sangat baik dipelajari oleh generasi penerus bangsa. (ER/Humas UNP).

Bagikan