MAKNA TERSEMBUNYI DIBALIK ORNAMEN HIAS TRADISIONAL SIRIAH GADANG

 

Iwosumbar.com, Padang – Syafwandi, peneliti dari jurusan seni rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. “Makna Tersembunyi Dibalik Ornamen Hias Tradisional Siriah Gadang”

Ornamen tradisional Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan istilah “ukiran” merupakan sebuah simbol yang melambangkan sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau.

Ukiran ini pada awalnya terdapat pada dinding rumah gadang (rumah adat)
masyarakat Minangkabau. Tidak jarang pula kemudian para budayawan menyebut rumah adat Minang sebagai buku pintar yang berisi tentang kebudayaan atau adat istiadat masyarakat Minangkabau.

Hal ini disebabkan karena pada dinding rumah adat Minangkabau banyak ditemui ukiran, baik pada dinding bagian luar, maupun pada bagian dalam rumah. Semua corak ornamen yang terdapat di rumah Minang bukan hanya sebagai ornamen hias belaka, akan tetapi semua ornamen tersebut memiliki muatan makna.

Ornamen hias Minangkabau atau ukiran Minang selalu dibuat di atas kayu surian yang merupakan kayu khusus dan khas Minangkabau. Kayu surian banyak tumbuh di hutan Minangkabau, dan menjadi ciri khas dari ukiran Minangkabau. Kayu surian sebagai bahan khusus ukiran Minang sama halnya dengan penggunan kayu jati untuk ukiran masyarakat di jepara jawa Tengah.

Keberadaan kayu jadi di daerah Jawa telah menjadi sebuah komoditas dan mendapat perhatian khusus bagi masyarakatnya, sehingga kayu jati sudah menjadi tanaman yang dikelola secara baik. Berbeda dengan kondisi kayu surian di Minangkabau, kayu surian hanya tumbuh di hutan, dan belum dikelola dengn baik. Kondisi ini kemudian menjadi sebuah kendala bagi kelangsungan tradisi ukiran Minangkabau.

Selain itu jumlah tenaga terampil dalam hal mengukir mengalami kemunduran, hal ini disebabkan karena para remaja Minang tidak mau menekuni pekerjaan sebagai tukang ukir. Kondisi ini kemudian membuat ukiran Minang menjadi sesuatu sulit untuk produksi, kelangkaan kayu dan kurangnya tenaga terampil berimbas pada harga jual ukiran Minangkabau.

Berdasarkan informasi di lapangan disebutkan bahwa harga ukiran minang dalam ukuran satu meter bujur sangkar adalah Rp. 1.500.000, Tingginya harga jual ukiran berakibat kepada menurunya minat masyarakat untuk memiliki ukiran Minang.

Keprihatinan ini kemudian menjadi pemicu seorang syafwandi untuk melakukan penelitian terkait dengan pengembangan produksi ornamen hias Minangkabau. Pengembang ini dimaksudkan untuk mempertahan nilai-nilai yang terdapat pada ornamen hias tradisional Minangkabau.

Pengembangan yang dilakukan dalam penelitian ini ditujukan untuk mengatasi kekurangan bahan, dan kekurangan tenaga terampil. Untuk itu dilakukan penelitian dengan konsep reproduksi ornamen menggunakan teknologi cetak. Bahan cetakan menggunakan karet silikon (silikon rubber) dan bahan coran semen.

Sedangkan untuk produk ornamen digunakan bahan gipsum atau casting, selain bahan gipsum sesungguhnya dapat diganakan bahan lain seperti coran semen, dan fiberglass. Penelitian ini juga mengusung konsep mempertahankan nilai-nilai luhur yang terdapat dibalik ornamen tradisional terkait dengan pola hidup orang Minangkabau.

Selain itu dengan sistem reproduksi berbasis cetak, harga jual ornamen dapat ditekan menjdi Rp. 100.000, (seratus ribu rupiah) permeter bujur sangkar. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat ukiran dari kayu surian permetar bujur sangkar lebih kurang empat hari, sedangkan sistem cetak hanya dibutuhkan waktu 20 menit.

Oleh karena itu syafwandi memilih salah satu corak ornamen dengan nama siriah gadang (sirih besar) untuk dijadikan sebagai pola ornamen hias pada lampu, dengan menggunakn konsep precast. Struktur lampu yang dikonsep oleh syafwandi adalah lampu yang dipasang di plafon (loteng) rumah tinggal. Kajian tentang makna simbol yang terdapat di balik ornamen corak siriah gadang berkaitan dengan filosofi yang menggambarkan prinsip orang Minang yang belajar kepada alam, yaitu alam takambang jadi guru.

Sirih adalah simbol sistem komunikasi orang Minang dalam kehidupan berbudaya, terutama dalam menjalin pergaulan sehari-hari. Sampai hari ini sirih dipakai dalam upacara adat yang berlangsung di Minangkabau, dalam upacara penyambutan tamu-tamu penting.

Tetamu yang datang disambut dengan sebuah tarian, pada penghujung tari munculah tiga orang penari menyuguhkan sirih yang terletak di dalam carano. Sirih disuguhkan kepada para tamu undangan, para undangan ada yang hanya sekedar mencabik daun sirih, dan ada pula yang mengambil secabik sirih lalu memakanya.

Simbol daun sirih dalam konteks menanti tamu adalah perlambng penghormatan kepada tamu yang datang. Menurut syawandi konsep keramahtamahan merupakan sebuah konsep yang mengandung nilai luhur yang perlu dipertahankan sebagai ciri keramahtamahan masyarakat Minangkabau.

 

Bagikan