Tunggu Saja Hasil Penghitungan Akhir JURDIL Dari KPU

 

Iwosumbar.com, Padang – Kinerja KPU benar-benar diuji pada pemilu 2019 ini, sorotan dari masyarakat Indonesia bahkan internasional pun mengikuti perkembangan tahap per tahap dalam penyelenggaraan pesta demokrasi kali ini hingga penghitungan resmi berakhir 22 mei mendatang.

Kwalitas dan Profesional dari KPU, menjadi topik hangat menjelang akhir penghitungan, Baik soal penginputan data suara, hingga terjadinya fenomena dimana ratusan orang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu 2019 turut meninggal dunia akibat kelelahan.

Hangat dan memanas jelang penghitungan resmi KPU berakhir, Sebaliknya kedua kubu pasangan 01 dan 02 sudah saling berkeras dan mengatakan pihaknya masing-masing telah unggul dan menang dalam penghitungan Quick Count dan Real count masing-masing.

Dilansir dari Minangsatu. Com, Khairul Fahmi, Pakar Hukum Tata Negara Unand melihat fenomena terjadi saat ini mengatakan, harusnya semua pihak bersabar menunggu penghitungan secara berjenjang, dan elit politik juga menurunkan tensi politik dengan cara menghentikan penyebaran-penyebaran informasi yang tidak benar dan berpotensi mendelegitimasi pemilu.

“Beri kesempatan kepada penyelenggaran menyelesaikan semua tahapan. Kalau merasa ada kecurangan kumpulkan bukti-bukti, dan siap-siap mempersoalkannya ke MK”, Katanya.

Mekanisme hukum kita telah menyediakan ruang, gunakan itu. Pikirkanlah masa depan keutuhan bangsa. Jangan hanya memikirkan kekuasaan semata!” tegas dosen Unand yang baru saja menyelesaikan studi doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sedangkan berkenaan dengan aspek jujur dan adil (jurdil) pada KPU, Khairul Fahmi melihat ada sejumlah faktor yang mempengaruhi. Aspek jurdil pemilu tergantung pada banyak faktor, yaitu aturan, penyelenggara, peserta maupun masyarakat. Dari segi aturan, masih terdapat celah-celah, dimana peserta dapat berlaku tidak jujur, khususnya aturan terkait money politik.

“Namun aspek profesionalitasnya yang masih belum maksimal, karena berbagai masalah teknis penyelenggaraan, seperti logistik dan proses pungut-hitung yang kedodoran,” sebutnya.

Tak dipungkiri pemilu 2019 kali ini membelah masyarakat dalam posisi pendukung 01 dan 02, isu-isu kampanye berpotensi mempertajam pembelahan antar pendukung capres.

“Demikian juga penggunaan isu sensitif dalam kampanye seperti isu agama. Hal ini menjadi penyebab tajamnya pembelahan antar pendukung capres,” tandasnya. (**)

Bagikan