Kesenian Kuno “DIKIA PAUH” Dipentaskan DI FNJT3

(Ket foto, Kesenian Dikia Pauh Mendendangkan Shalawat)

Iwosumbar.com, Padang – Kesenian tradisi membutuhkan generasi penerus untuk melanjutkan tongkat estafet agar kesenian bisa terjaga dan berkembang.

Namun kesenian tradisi pada era milenial saat ini seolah ditinggalkan oleh generasi. Dan permasalahan tersebut tidak bisa dibebankan kepada perubahan zaman atau generasi muda itu sendiri.

Minimnya panggung yang dimiliki oleh para seniman tradisi sepertinya menjadi titik sentral kenapa kesenian tradisi kehilangan penikmat serta peminat sehingga menjadi sesuatu yang langka.

Untuk itu, Festival Nan Jombang Tanggal 3 (FNJT3) yang di ketuai oleh Eri Mefri selalu memberikan panggung kepada para seniman tradisi dengan harapan kesenian tradisi khususnya di Minangkabau selalu terjaga dan tidak hilang begitu saja keberadaannya.

Dikatakan Eri Mefri, Festival FNJT3 ini merupakan sebuah apresiasi kepada seniman tradisi yang selalu setia menjaga kesenian tradisi. Dan rutin dilaksanakan setiap tanggal 3 di Ladang Tari Nan Jombang, belakang perumahan Polda Balai Baru, Padang. Setiap pukul 20:00 WIB.

Sementara Festival yang diselenggarakan oleh Nan Jombang Group bersama Komunitas Galombang Minangkabau masih di suport oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.

Di tahun ke-7 penyelenggaraannya FNJT3 tidak hanya menampilkan kesenian tradisi dari Minangkabau, namun juga dari daerah di luar Minangkabau.

Bila sebelumnya FNJT3 menghadirkan kesenian tradisi dari Tanah Melayu, namun kali ini FNJT3 akan menampilkan kesenian tradisi kuno dari Padang sendiri yaitu DIKIA PAUH.

“kita akan selalu terbuka dan siap menjadi wadah untuk kesenian tradisional Minang, Seperti kesenian dikia ini sendiri saya saja baru mengetahui” ujar Eri.

(PIMPINAN FNJT3 ERI MEFRI )

Dikia Pauh sendiri merupakan salah satu kesenian tradisi yang sudah cukup lama dan populer pada masanya di Padang. Kesenian berbentuk shalawat dan hikayat nabi Muhammad SAW.

Sementara didalam penyajiannya Dikia Pauh memiliki 5 sesi, yaitu DIKIA, SALAWAT, HIKAYAT, BERSANJI, dan DOA MAULID. Berbeda dengan kesenian berbentuk dikia atau shalawat lainnya di Minangkabau,

Dikia pauh tidak hanya dimainkan dengan duduk saja namun juga pada beberapa sesi mereka akan memainkannya dengan berdiri seperti layaknya orang sedang menari.

Dulu kesenian ini dimainkan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun dalam perjalanannya, kesenian tersebut tidak hanya dimainkan ketika maulid nabi saja.

Menurut Janidir Rajo Intan, salah seorang pelantun kesenian ini mengatakan, dulu dikia dilaksanakan hanya untuk memperingati maulid nabi saja.

“Tapi sekarang bisa digelar dalam acara apa saja seperti baralek, menaiki rumah dan lain sebagainya”, terangnya.

Janidir Rajo Intan pria 78 tahun tersebut mengaku memainkan Dikia Pauh sejak tahun 1965 tepatnya saat dia masih berusia 13 tahun.

Menurut pengakuan Janidir, kesenian tersebut dipelajarinya dari salah seorang “Guru Gadang” bernama ANGKU KETEK RALI berasal dari PAUH.

Penampilan kesenian DIKIA PAUH di FNJT3 sekaligus untuk menyambut masuknya bulan suci Ramadhan. (**)

Bagikan