Kecelakaan Berpikir Bermula Dari Hati Yang Terkilir

Iwosumbar.com, Sumbar – Siang ini saya baru terjaga. Biasa. Ya, biasanya, sepergi subuh, saya baru tidur.

Matahari saya bulan.
Bulan saya matahari. Sudah bertahun kecelakaan rasa ini saya idapkan dalam hidup.

Kawan menulis saya, bulan. Kawan berpikir saya, matahari.

Ada mimpi atau tak bermimpi, tidur saya asik sekali. Yang saya khawatirkan, bila tidur saya berkaruh. Saya sedih saja kalau bunyi karuh itu berisik dan mengganggu orang terjaga.

Saya baru terbangun. Saya lihat langit Padang tidak lindap. Tak pula ada awan di awang awang. Kopi saya pekat, tapi tidak kelat karena ada gula yang tak terlalu banyak.

Saya belakangan ini memilih bilik sunyi. Namun tidak sepi. Sunyi saya tidak hening. Sesunyi sunyinya saya, rimba saya tak liar liar amat. Karena, belakangan ini  saya sedang berusaha menanam di  lahan luas cakrawala yang selama ini mungkin saja tak total saya jelajahi.

Siang cerah berangin. Sapuannya menjatuhkan beberapa daun kering di pekarangan. Nanti sore, saya akan menyapunya.

Azan menggema, sampai di sini, saya berhenti sejak menyusun aksara.

Saya takut kehilangan diksi kalau terus menulis saat azan tadanga…..

Ya…adzan sudah selesai. Sebentar lagi saya juk aia. Terus menemuiNya.

Baiklah, pada saat sekarang, di usia yang kian menanjak, saya memang menghindari perbuatan yang dapat melukai hati orang banyak.

Kalau saya tak bisa menyembuhkan hati orang, saya lebih baik diam. Untuk apa bicara kalau  ujungnya menyakiti.

Saya malas berpikir kalau manfaatnya tak memandaikan.

Saya berpendapat, kecelakaan berpikir berhulu dari hati yang terkilir.

Saya mau saja berpikir di luar garis asal peluit wasit tak menunjuk noktah putih. Itu pinalti namanya. Risikonya, hidup mati.

Saya masa remaja juga pemain bola. Cukup populer di kampung saya. Kalau tidak percaya, tanya sama Meddy Sulhendi wartawan Rakyat Sumbar. Meddy teman saya sejak kecil. Tak terhitung, berapa kali kami bercakak, tapi tetap berdunsanak. Kalau bercakak, saya jago mencido. Menutuh orang berbadan kuat dari belakang. Itu perangai saya dulu, mah. Imed pasti ingek.

Hehehe, saya pemain bola. Posisi saya menyerang dari depan, bukan mencido.

Saya menyerang liar. Kata orang, saya bermain lincah.  Dan selalu saja sambil menggiring bola saya berpikir. Apakah bola akan saya arak sendiri sampai berhadap hadapan dengan kiper , juga saya pikirkan dengan matang dan dengan naluri.

Kalau tidak memungkinkan menyarangkan bola sendiri, saya ligat mengoper ke kawan.

Saya juga tak ingin mencari popularitas di lapangan bola dengan mengorbankan komunitas.

Mengorbankan tim yang sudah bertahun dibangun, bagi saya adalah sebuah kejahatan personal.

Di tangah lapang, jan pangocok. Pangilik.Nyo kalang kaki dek urang, ha basorak panonton. Rasai…

Di lapangan bola jangan kagadang gadangan. Kanai simpai dek lawan tu, padiah mah. Lepai wak bekoh.

Keberanian menyerang, bukan kekonyolan. Kekonyolan adalah musuh abadi sebuah kesungguhan.

Kekonyolan yang tak pada tempatnya adalah kata lain dari kebodohan yang minta diakui sebagai kecerdasan atau kehebatan bagi orang orang bodoh yang penuh kekurangan.

Kekonyolan yang adil adalah kekonyolan yang berada di ruang yang tepat dan waktu yang serasi.

Ah,telat saya solat jadinya gara gara menulis ini juga baru.

E yayai…., Salam Pinto Janir.

Bagikan