Mata Seperti Tak Hendak Melepas Tatap ke Jambatan Aka.

(Ket, Sulthan Indra Penggiat Literasi, foto doc)

Iwosumbar.com, Sumbar – Akar bertali pilin berpilin, pelepah berdaun rimbun, sungai Bayang liku berliku. Jati diri di dalam batin, santun bertutur langkah seayun, nagari Minang dijaga laku.

Agaknya, itulah gambaran alam sehamparan batang sungai ‘Jambatan Aka’ di korong nagari Bayang.

Nagari tertua di Pesisir Selatan SUMBAR ini pernah menjadi ikon wisata, karena ke eksotisan alam dan legenda jembatan yang terbuat dari akar dua buah pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun itu, berada saling berseberangan diantara aliran sungai.

Konon, kabarnya. Jembatan ini dibangun oleh seorang ulama yang peduli terhadap masyarakat kampung yang terpisahkan oleh hulu sungai Bayang, guna akses masyarakat di dua kampung itu dan mengantarkan hasil tani yang berlimpah, beratus tahun lalu. Bayang, adalah nagari yang memiliki tanah sangat subur, dengan sesejuk udara mendayu rayu, gemerincing kecipak sungai bermain saling berkejaran diantara celah bebatuan gunung yang legam, seakan memandikan pandangan pada kejernihan hati sosok ulama yang telah berjasa pada masyarakat kampung hingga kini.

MATA SEPERTI TAK HENDAK  MELEPAS TATAP KE JAMBATAN AKA 

Dari bawah tepian sungai duduk sendiri menikmati secangkir kopi dengan belahan pisang goreng yang kembang bak kipas raja-raja. Mencoba menjalin pikiran, sekedar mengkaji anugerah yang Tuhan berikan pada keindahan alam.

(ket foto Jambatan Aka Pesisir Selatan)

Sedikit mencerna, bahwasanya bisa jadi, dulu akar ini memang disatukan kedua ujungnya oleh seorang ulama. Dan lama berselang, pohon ini tumbuh subur sehingga menghantarkan akar yang lainnya untuk saling merajut jalin. Lantas … Ah. Tak sanggup ternyata pikiran ini turut menjalin fenomena alam yang luar biasa.

Karena sudah terfokus pada rindang dedaun yang memayungi mata. Hanya bersekat beberapa akar mati yang bergelantungan, seakan siluet pertunjukan alam akan terpancar dari balik teka-teki negeri yang dipenuhi tradisi.

Semilir semakin deras menghembuskan hawa senja menerpa dari pucuk pepohonan, menghantarkan abstrak ke wajah bebatuan legam, saling bertegur sapa pada anak sungai yang semakin riang berlarian ke hilir sembari menyapa pengunjung dengan tarian riak dari tepian akar jembatan.

Deretan penjaja makanan ringan menawarkan hangatnya jajanan bertadah daun pisang. Masih sangat hijau budaya tutur meluncur di negeri ini.

Amak-amak berselendang sesekali menjujai anaknya yang separuh terjaga dalam buaian indang. Melantunkan nyanyian alam penuh makna, penghantar jati diri si anak besar nanti. Oh … Semakin menambah semarak romansa alam sebelum kelam datang memejam. Menutup senja, beberapa anak kecil terjun dari pangkal akar yang besar menuju dasar kejernihan batang sungai Bayang.

Beberapa pengunjung asik berfoto mengabadikan Jambatan Aka dalam kehidupannya, semoga mitos akan menjelma di diri rang muda. Begitu ungkapan yang ada. Siapa saja yang berkunjung ke Jambatan Aka ini, maka akan menemui jodohnya.

Hmmm. Begitu rupanya. Yang jelas, tempat ini sangat seksi bagi wisatawan. Terlebih lagi, jembatan yang memiliki tinggi lebih kurang 10 meter berada di atas sungai ini dapat dikelola dengan baik bersama masyarakat, agar lebih tertata lagi dengan sangat baik, mulai lahan parkir, kuliner kedaerahan, souvenir, kebersihan dan tatanan pedagangnya yang berjejer rapi, agar pengunjung lebih mendapatkan kenyamanan serta oleh-oleh pesona alam yang begitu asri sehingga bisa dijadikan juga sebagai penunjang ekonomi masyarakat sekitar.

Dan, tentunya sebagai nagari yang penuh dengan budaya serta tradisi, dapat pula menghadirkan suguhan indah penuh makna kepada pengunjung, sebentuk hiburan dari masyarakat. Karena, jati diri lahir dan berakar dari budaya dan tradisi.

By. SULTHAN INDRA, (Penggiat Literasi)

Bagikan