Mengenang ‘Gusmiati Suid’ Maestro Tari Kotemporer Asal Minang

Iwosumbar.com, Padang – Mengenang Gusmiati Suid, seorang sosok yang merupakan salah satu pilar pengembang budaya alam Minangkabau. Lahir di Batusangkar 16 Agustus 1942 dan Wafat 28 September 2001 di Jakarta.

Budaya silat Minangkabau telah bertransformasi menjadi karya tari, yang mengantarkan koreografer, almarhum Gusmiati Suid dan telah mendapatkan penghargaan bergengsi dari berbagai negara.

Menurut Edi Utama, Proses transformasi ini akan menjadi topik diskusi dari salah satu rangkaian Silek Arts Festival (SAF 2019), yang akan dilaksanakan di Gedung Kebudayaan, Taman Budaya, Padang (22/8/2019) Pukul 09.00-17.00 Wib.

Bertema ‘Tansformasi Silek dalam Karya Seni Studi Kasus Gusmiati Suid’ dengan narasumber berkompeten diantarnya, Drs. Hanefi M.pd, Dr. Indra Utama S. Kar. M. Hum. Drs. Hajizar, Msn dan Prof. Dr. Rahmi Fahmi. Dan dimoderatori oleh Edy Utama bersama Dr. Susarita Lovarianti

“Diskusi terbuka untuk umum, siapa saja boleh hadir dan tidak dikutip biaya” terang Edy Utama. Pada media ini¬† (12/8/2019)

Seperti diketahui, Gusmiati Suid adalah seorang Kareografer (penata tari) kontemporer asal Ranah Minang, dirinya juga dianggap sebagai tokoh pemberontak di dunia seni tari di Indonesia.

Dia juga dikenal seorang maestro tari dari dunia seni tari di nusantara adalah sosok pencipta tari Rantak yang mengadopsi dari gerakan Silat berbagai aliran di ranah minang.

Hampir semua karya-karyanya keluar dari pakem tarian Minang, hal itu berawal dari ketidak puasan dirinya terhadap tarian Minang sebelumnya, yang dianggap terlalu gemulai dan baku, seperti yang ada dalam tari gelombang, tari piring dan tari payung serta lainnya.

Gusmiati telah menghasilkan sekurangnya 30 karya seni tari pementasan. Beberapa karya seni tari yang terkenal ciptaan Gusmiati Suid diantaranya, tari Kabar Burung, Api Dalam Sekam dan tari Rantak di tahun 1976.

Gusmiati juga memimpin sanggar tari Gumarang Sakti. Bersama putranya, Boy G. Sakti, yang telah melahirkan banyak karya seni tari bertaraf nasional dan internasional.

Tahun 1978, karna dianggap telah berhasil menciptakan sesuatu yang baru, Gusmiati meraih penghargaan di Pekan Tari Tari Rakyat Indonesia.

Karya-karyanya beberapa kali tampil mentas diluar negri diantaranya, di Lausanne, Swiss, pada tahun 1980, dan di “Asia Festival of Theatre, Dance and Martial Art” di Calcutta, India, pada tahun 1987.

Pada tahun 1991 ia menerima penghargaan “Bessies Award” dari New York Dance and Performance.

Sanggar tari Gumarang Sakti yang didirikannya pada tahun 1982 menjadi satu-satunya wakil Asia di dalam acara tari Internationalis Tanz Festival ke-6 di Jerman pada bulan Juni tahun 1994. Dimana Festival tersebut diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun lahirnya tarian modern.

Sosok Gusmiati telah berjasa dalam mengembangkan seni tradisi Minangkabau, dimana dalam karya-karyanya tak pernah meninggalkan identitas tradisi Minangkabau dalam karya seni tari yang bertaraf nasional bahkan internasional. (**)

Bagikan