Ketua Komite SMA 10, Sam Salam Cerita Tentang “Kejujuran”

Iwosumbar.com, Padang – Kita tidak sependapat – bahwa anak saya tak perlu juara kelas, kuatir anak saya menjadi kutu buku disibukan dengan PR-PR, sehingga waktunya dihabiskan dengan membaca dan  mengerjakan PR-PR yang membosankan.

SehinggaNya anak lupa dengan kehidupan di alam nyata yang penuh dengan tantangan dan bertindak sportif dan jujur dengan berbagai pihak dalam berinteraksi. Juarapun anak saya, kalau tidak jujur, tidak ada artinya.

Kita memang tidak sependapat – bahwa anak saya tidak perlu kuliah di oxford atau di cambridge, UI atau UGM university walaupun saya mampu, yang penting anak saya mendapat pendidikan tentang hal-hal kejujuran, punya integritas, pekerja keras, dan mampu memberikan kebaikan kepada orang lain. Sebagus apapun kampusnya kalau anak saya tidak jujur, percuma.

Kita memang tidak sependapat – bahwa anak saya tidak perlu pelajaran tambahan diluar atau disekolah apapun namanya, seolah-olah mata pelajaran yang “diramu” negara melalui hasil otak orang-orang yang berkompeten tidak cukup.

Saya yakin dan percaya semua mata pelajaran yang dibuat negara sudah melelahkan otak anak saya, kalau ditambah lagi tentu anak saya capek dan otak anak saya akan jadi pecah karena anak saya bukan bionic women atau superman.

Saya sependapat Ekskul hampir sama banyaknya dengan mapel formal agar anak saya dalam berinteraksi dengan sesama dapat menambah benih kejujuran. Atau, pelajaran tambahannya adalah pelajaran “Kejujuran”.

Saya memang tidak sependapat – dengan guru yang mengajar anak saya memberi nilai 10, kalau anak saya menjawab 10 : 5 adalah 2.

Saya sangat sependapat – kalau anak saya menjawab bahwa 10:5 itu yang “adil dan jujur” adalah  2. Jangan  membaginya tidak adil dan jujur. Berbuat adil dan jujur dengan sesama itulah yang saya harapkan.

Saya memang tidak sependapat – bahwa belajar ekonomi itu untuk menghindari kerugian atau agar menambah keuntungan. Yang paling penting buat anak saya bahwa apabila dia untung, orang lain dapat merasakan dan menikmati keuntungan tersebut.

Memang banyak hal yang saya tidak sependapat, karena saya melihat masih banyak orang yang tidak jujur, penjahat-penjahat ekonomi dimana mana dan korupsi masih banyak terjadi di Republik ini. Ini semua berawal dari ketidakjujuran. Kenapa ?

Barangkali pendidikan formal tidak mampu membuat mereka jujur. // Jawabannya, “Dirikan sarana pendidikan kejujuran segera”

Saya bukan meminta orang lain untuk mengikuti kemauan pribadi saya ini sehingga harus memaksakan kehendak saya.

Karena berbeda pendapat itu adalah lumrah. Yang masalah adalah tidak sama banyaknya orang yang mengeluarkan pendapat dengan orang yang tak pernah mengeluarkan pendapat.

“Pendapat ini bukan Copy Paste, saya harus jujur mengungkapkanya”, Tegas Sam Salam (Ketua Komite SMAN 10 Padang) .

Bagikan