Perlu Komitmen, THRS Terancam Keluar Dari Warisan Dunia

Iwosumbar.com, Sumbar – Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) berada di sebelah barat dari Pulau Sumatera dengan luas area hampir mencapai 1,39 juta hektar ditetapkan sebagai kawasan warisan alam ‘The Tropical Rainforest Heritage of Sumatera’ (TRHS) bersama dengan Taman Nasonal Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Setelah ditetapkan sebagai TRHS oleh UNESCO pada tahun 2004, dan menjadi suatu kebanggaan bagi Sumbar, namun kini TRHS terancam akan dikeluarkan dari warisan dunia.

Hal itu dibahas di ruang rapat Gubernuran, dalam Rapat Koordinasi (Rakor), Penguatan Komitmen dan Dukungan Terhadap Pelestarian Hayati Kawasan Wilayah Alam Dunia TRHS dan TNKS di Provinsi Sumbar. Rabu (21/8/2019).

Selain gubernur Sumbar pada rapat tersebut juga dihadiri Bupati Pesisir Selatan Hendra Joni, Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc, Deputi PMK Kemenko PMK RI Yuli Harsono, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Yozarwardi Usama Putra, Kepala UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut Gubernur semua pihak harus ikut bertanggung jawab bersama, melaksanakan komitmen pencapaian status konservasi yang diharapkan oleh UNESCO.

Diketahui kawasan warisan alam dunia harus menjadi perhatian khusus, baik dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten terkait terhadap ancaman yang terjadi di kawasan TRHS, karena hampir seluas 25,36 persen seluas 352,470 hektar wilayah TNKS yang berada di Sumbar masuk alam situs warisan dunia dalam bahaya (The World Heritage in Danger List) tahun 2011.

“Ini semua akibat dari perambahan kawasan, illegal logging dan usulan pembangunan jalan, sehingga TRHS terancan dicabut,” ungkap Irwan Prayitno.

Disampaikan Irwan Prayitno perlunya upaya pemerintah dalam mengembalikan kepercayaan UNESCO terhadap TNKS dengan meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia, meningkatkan potensi sektor wisata, sehingga secara tidak langsung meningkatkan perekonomian Indonesia dan meningkatkan pengelolaan Taman Nasional, lebih baik, efektif dan efisien.

Terkait dengan adanya rencana pembangunan jalan yang membelah kawasan khusus TNKS makin memperparah kondisinya. Bila ini terjadi, TNKS bisa dihapus dari daftar Situs Warisan Dunia. Menurut Irwan Prayitno, rencana pembangunan jalan yang membelah TNKS harus dikaji kembali.

Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekositem (Dirjen KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc juga menyampaikan, bahwa pemerintah terus berupaya mengeluarkan TRHS dari status bahaya. Pemerintah juga berupaya memaksimalkan pemanfaatan TRHS untuk kesejahteraan masyarakat.

Dikatakan Wiratno, rencana pembangunan jalan bukanlah solusi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah lahan milik rakyat, bila rencana pembangunan jalan direalisasikan bakal memperburuk kondisi.

“Tentunya masyarakat akan saling rebutan lahan dengan menggunakan pihak swasta, ini bisa menciptakan konflik dan kekacauan sosial,” ujar Wiratno.

Jangan sampai warisan dunia di salah satu tanah Sumatera menjadi punah. (**)

Bagikan