Adat Budaya Minangkabau Menyikapi Isu Perubahan Global

Iwosumbar.com, Sumbar – Memerankan Adat Budaya Munangkabau, Menangani Isu Perubahan Global, Dengan Membangun Generasi Unggul, Taat Beragama Beretika dan Beradat.

Buya Mas’oed Abidin, (HMA) menjabarkan hal diatas secara rinci dengan tulisanNya sebagai berikut,

‘GERAKAN MASYARAKAT BERSAMA MENANGANI ISU PERUBAHAN global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang.

Menurut Buya HMA, Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam “Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek, Manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Maka, Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, “Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Di tegaskan HMA, Generasi Muda masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati.

“Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik, Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.” ujarnya

Disampaikan Buya, Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaulan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Bukittinggi, Sumatera Barat mestinya hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu.

Buya juga menghimbau, Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

Peran amar ma’ruf nahi munkar mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu dengan akhlaqul Karimah dalam pengamalan syari’at (sarak mangato adaik mamakai) tujuannya adalah untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

“Hilangnya Akhlak disebabkan Agama tidak diamalkan. Ibadah lalai maka nilai etika budaya terabaikan. Akibatnya masyarakat hancur”, terangnya.

KITA MEMERLUKAN BEBERAPA SIKAP untuk membuat keberhasilan (prestasi); berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah.

“Mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spiritual. Dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan”, himbaunya.

Sementara Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya, yang mencakup, Tanggungjawab Kepada Allah, Kepada Diri, Kepada Ilmu, Kepada Profesi, Kepada Masyarakat, Kepada Sejawat, dan Kepada Keluarga.

Buya juga menjelaskan, Nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada, (1). adanya rasa memiliki bersama, (2). kesadaran terhadap hak milik, (3). kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, (4). kesediaan untuk pengabdian, (5). terjaga hubungan positif akibat hubungan pernikahan, hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Padang, Dzulhijjah 1440 H / Agustus 2019 M, Buya Masoed Abidin Za Jabbar Buya Hma Majo Kayo.

Bagikan