Apa., Pak Nasrul Belum Tentu Diusung GERINDRA ?

 

Catatan: Pinto Janir
(Kaji-kaji Politik dalam Analisis Politik Lokal)

Iwosumbar.com, Padang – Sepahit kopi hangat pagi ini, saya membaca kabar kelat dari sebuah berita di Harian Singgalang. Tapi, membaca berita itu saya tidak tersekat. Karena politik bukanlah sekat-sekat.

Politik adalah ruang lapang yang bertuan pada situasi. Ia bisa saja kumpulan dari segala ketidakmungkinan dari lapisan kemungkinan dan kepastian. Kepastian politik adalah kepastian yang mungkin. Kemungkinan politik adalah kepastian. Alam kebijakan politik adalah ruang,waktu, cuaca, angin, laut, gelombang, suara, kerikil, pasir dan bahkan sesautu yang dianggap debu, mungkin saja itu batu besar.

Ampli politik itu indera ke 6, bukan hanya sekedar memakai kekuatan lima panca indra semata. Terkadang ia terkesan nonrasional dalam intelektualitasnya. Terkadang ia bergerak di luar ruang kesadaran kita. Ia mistik. Ia tersembunyi karena petikan dawainya adalah intuisi.

Politik ruang orang cerdas yang bertali jantung sekuat besi. Ia ruang pikiran yang lapang di dada yang tak pernah sempit. Alam pikirannya banyak. Kadangkala tertolak dari ukuran akademis. Ia berilmiah pada sesuatu yang tampak seakan tak ilmiah. Kadangkala ia berpengetahuan di ruang yang tampak seolah ia tak tahu. Kadang-kadang ia berobjektif dalam keseolahan subjektif.

Politik itu seperti warna yang dilempar seorang pelukis ke kanvas kosong! Soal apakah lukisan yang tampak itu adalah abstrak, ekspresionisme, naturalisme itu adalah soal mata menerjemahkan yang ada di ruang optik. Jadi, apakah kepastian politik itu ada? Ada ! Itu tergantung di mana tempat kita tegak. Ia seperti fenomena orang buta memegang gajah.

Jadi apa substansi yang akan saya tuliskan hari ini?Di atas itu hanya baru sekedar ruang pengantar. Apa mungkin dalam pengantar ada substansi pikiran? Mungkin saja.Karena kita tidak membahas penulisan dalam kajian ilmiah. Bagi saya, keilmiahan berawal dari ketakilmiahan. Setiap kita memiliki kemampuan membaca yang tersurat, tapi tidak dalam membaca apa yang tersirat. Kajian politik adalah kajian garak menggerakkan gerik. Manggarik karena tagarak !

Baiklah, saya membaca berita Harian Singgalang ketika kopi saya masih panas, hingga saya menulis ini, kopi di gelas saya ternyata sudah dingin. Tapi pikiran saya membaca berita Harian Singgalang itu masih hangat.

Berita itu ditulis di halaman satu. Di ruang kaki bawah. Ini judulnya : PILGUB SUMBAR ; Nasrul Abit Belum Pasti Diusung Gerindra.

Alinea pertama berbunyi, “Nama Ketua DPD Partai Gerindra yang juga wakil gubernur Sumbar, Nasrul Abit ternyata belum sepenuhnya akan ditetapkan sebagai bakal calon gubernur yang akan diusung Partai Gerindra pada Pilkada mendatang”.

Apakah ada yang aneh pada berita tersebut? Kalau kita mendengar dari sisi telinga awam, wajar bila kedengarannya aneh. Mengapa? Masak, seorang ketua DPD sebuah partai yang juga menjabat wagub belum sepenuhnya akan ditetapkan sebagai balon gubernur. Aneh. Awam dengan kepastian awam.Awam dengan kepastian pernyataan pasti menduga bahwa seorang Nasrul Abit pati akan diusung Gerindra jadi balon Gubernur.

Tapi kalau didengar dari sisi telinga lain, minimal telinga sisi saya, berita itu biasa saja. tak ada anehnya. Pernyataannya masih berbau normatif.

Baiklah kita lanjutkan pada alinea kedua dari berita tersebut.

Dikatakan Wakil Ketua DPP Partai Gerindra,Fadli Zon kepada wartawan di Jakarta (11/9) pimpinan Pusat partai besutan Prabowo Subianto itu hingga saat ini masih mempertimbangkan beberapa nama untuk diusung sebagai kandidat kepala daerah.

” Belum.Sampai saat ini, kita belum putuskan satu namapun sebagai Cagub yang akan kita usung di Pilkada Sumbar, bahkan termasuk nama Pak Nasrul”, jelas Fadli. Ia menambahkan,meski menjabat sebagai ketua DPD dan wakil gubernur , Nasrul tidak serta merta lolos dan otomatis diusung sebagai cagub.

Sebagai rakyat biasa, saya menarik nafas panjang setelah membaca pernyataan akhir dari alinea di atas. Awam saya yang manusiawi serasa menyeduh kopi hangat yang kelat, ujung lidah saya tergelinjat karena tersudu kopi panas. hampir saja ia menyambur.

Saya mengandaikannya begini. Tuhan tak pernah mendatangkan sesuatu secara mendadak. Sebelum sesuatu terjadi, selalu dimulai dengan tanda-tanda. gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas. Kalau kan berjalan, baca-baca angin kalau kan melangkah baca dan rasakan apa yang terjadi pada diri. Kedut di tangan pertanda akan mendapat, kedut di betis pertanda akan bertengkar, geli di kaki pertanda akan berjalan. Begitulah. dan biasanya orang bijak mengarifi tanda !

Tak ada sesuatu yang baru di atas dunia ini. Kejadian di atas dunia adalah kejadian yang berulang-ulang dalam konteks berbeda. Maka, dari itu, orang bijak membaca sejarah. Sejarah adalah guru paling jujur yang mengajajarkan kita lebih bijaksana. Tak ada keledai yang mau terperosok di lubang yang sama.

Kalau pun ada yang baru di atas dunia ini, tak lebih dari kemasannya saja. Ia dikemas-kemas baik-baik seolah-olah baru. tak ada sesuatu yang baru di atas dunia, yang ada itu barangkali “baru” terkejut karena mendengar dan memilhat dalam keadaan belum siap.

Setantang berita tersebut di atas, saya teringat pada percakapan sebulan silam dengan politisi muda Sumatera Barat yang sedang berbinar yakni Febby Datuk Bangso. Dengan staf khusus Kemendesa itu, saya memang sering berdiskusi seputar peristiwa politik, sosial, budaya dan pariwisata.

Febby yang juga Ketua DPW PKB ini—di mana PKB meraih 3 kursi di DPRD Sumbar—berkata: ” Da Pinto, menurut ambo serancaknya Pak nasrul Abit harus sudah mulai membangun komunikasi dengan partai politik lain yang memiliki kursi di DPRD Sumbar”.

” Ha, ba-a tu Ji?” pancing saya yag memanggil Febby memang dengan sebutan Ji dari kata haji,” Ambo yakin 70% Pak Nasrul sebagai ketua Gerindra Sumbar, sebagai Wagub, sebagai partai peraih suara terbesar di Sumbar, pasti akan mengusung Pak Nas sebagai calon gubernur Sumbar”.

Kepada Febby, saya sengaja menekankan kata “pasti” untuk memancing intuisinya.

“Da, hidup di dunia tak ada yang pasti kecuali mati! Politik itu dinamis.Keputusannya adalah harmonisasi kebutuhan dan keinginan massa di ruang dan waktu yang tepat !” ujar Febby.

“Saya hanya menyarankan supaya Pak Nas mulai membangun komukiasi lebih intens dengan partai lain. Saya khawatir, jangan sampai kita telat membaca bayang. Kalau kapal sudah penuh, sementara partai kita memiliki pertimbangan lain, sedangkan peluit keberangkatan sudah berbunyi di dermaga, maka kita akan bisa saja ketinggalan kereta. Saya mengambil contoh pada peristiwa politik yang dialami oleh Pak Shadiq Pasadigoe dalam konteks pencalonan gubenru Sumbar”, ujar Febby.

Ditambahkan Febby, Nyaris semua partai menyebut-nyebut nama Pak Shadiq. Semua rasa ke iya. Tapi, di final? Pak Shadiq ditinggalkan partai. Hanya satu partai yang memastikan mendukung Pak Shadiq adalah PKB Sumbar.

Lalu bagaimana?
” Pak Nasrul, sebaiknya harus mulai melobi partai lain dari kini !” tukas Febby.

Kemudian konklusi dari tulisan saya yang bermula dari sebuah berita ini, apa?

Ya ini sesuai dengan pernyataan H Febby di atas: ” Pak Nasrul, sebaiknya harus mulai melobi partai lain dari kini !”

Bagikan