• Home »
  • EKONOMI »
  • Adagium, Filosofi Rumah Gadang dan Pemasaran Asuransi Berkearifan Lokal

Adagium, Filosofi Rumah Gadang dan Pemasaran Asuransi Berkearifan Lokal

catatan : H Febby Datuk Bangso (Ketua Forum Bumdes Indonesia)

Iwosumbar.com, Agam – Literasi saya ini hari adalah literasi dalam narasi pada  filosofi rumah gadang dan asuransi. Ini malam saya sedang mengamat-ngamati ruang rumah gadang kita.

Begitu bahagianya saya selaku Ketua Forum Bumdes Indonesia di saat Pemerintah melalui Kemendesa PDTT RI menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak asuransi dalam memberi pertanggungan jiwa pada para pendamping desa kita.

Ini adalah hawa baru. Ini adalah peluang baru bagi penguatan Bumdes. ini adalah kebahagian. Sehingga inspirasi saya mengalir dalam filosofi rumah gadang dan asuransi.

Bacalah…

Sebelum membahas filosofi, saya uraikan dulu. Bahwa Menjadi pendamping desa, bukan kerja yang sederhana. Ia butuh totalitas kerja dan fokus. Nyaris tak ada istilah waktu libur bagi seorang Pendamping Desa.

Percepatan pembangunan di desa, tak bisa dilepaskan dari peran pendamping desa. Kerja pendamping desa itu, kerja otot dan kerja pikiran. Ia memetakan, dan ia sekaligus bagaikan motivator bagi anak negeri untuk menggali potensi desa itu sendiri .

Sesungguhnya ia adalah sahabat, tempat bertanya  dan kawan berdialog bagi warga desa dan Pak Kadesnya. Adat pekerjaan itu risiko. Sakit, kecelakaan atau bahkan ketika ajal menjemput di saat melaksanakan tugas-tugas pendampingan, selayaknya harus ada pertanggungan.

Rasa bertanggungjawab negara demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh Pendamping Desa di Indonesia, dalam hal ini melalui Kemedesa PDTT RI – menjalin kerjasama dengan BNI 46 dan PT  BNI Life Insurance.

Kerjasama itu bertajuk Program Asuransi Tenaga Pendamping Profesional untuk periode 3 tahun.

Kerja sama ini ditandatangani Direktur Utama BNI Life Insurance Shadiq Akasya dan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes Taufik Madjid dan disaksikan Mendes Eko Putro Sandjojo, serta Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Adi Sulistyowati.

Dapat kita tangkap makna dari kerjasama ini, yakni  membantu para Tenaga Pendamping yang berjumlah sekitar 37 ribu orang untuk mulai sadar berasuransi.

Mereka diajak agar memiliki asuransi jiwa disamping BPJS Kesehatan. Dengan memiliki asuransi BNI Life, keluarga Tenaga Pendamping akan mendapatkan uang pertanggungan dari BNI Life sebesar Rp 20 juta jika ada kejadian yang tidak diinginkan seperti kematian.

Sekaligus dapat kita lihat, ini juga bagian dari pelaksanaan  visi misi Jokowi – Ma’aruf menuju SDM unggul.

Selaku ketua Forum Bumdes Indonesia dan juga Staf Khusus Kemendesa PDTT RI, saya sangat bersuka cita menyikapi program kerjasama  Kemendesa PDTT RI dengan BNI 46 serta PT BNI Life Insurance.

Mengapa?  Bukankah ini membuka peluang  untuk penguatan Bumdes ? Karena,  agen asuransi ini akan menjadi unit usaha bumdes yang sejalan dengan literasi keuangan di desa-desa.

Kita sikapi dan kita respon kerjasama ini dengan menggelar kegiatan pelatihan keasuransian bertema : “Asuransi Masuk Desa Menuju Desa sadar Asuransi” .

Pelatihan ini akan dilaksanakan Senin (16/9) besok di Jorong Lundang Nagari Panampuang Kecamatan IV Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat. Kegiatan  diikuti sekitar 100 peserta dari penggiat desa, pengurus Bumdes dan kader Posyandu.

Saya memilih melaksanakan pelatihan ini pada sebuah rumah gadang di Lundang Nagari Panampuangan Agam.

Mengapa harus di rumah gadang? Apa yang hendak saya pesankan dalam bahasa simbolis?

Saya melihat filosofi Rumah Gadang dan asuransi sangat selaras dalam harmonisasi kehidupan yang berkearifan dan bijaksana.

Mari kita sibak !

Sebelumnya, pandang-pandang dan amati rumah gadang kita tersebut. Filosofi apa yang tertanam di Rumah gadang dan apa hubungan filosofi tersebut dengan kebijaksanaan ruang asuransi secara universal.

Pandanglah baik-baik atap rumah gadang. Atapnya terbuat dari ijuk. Pemakaian ijuk adalah simbol ramah lingkungan. Sementara,  salah satu filosofi asuransi adalah proteksi. Adalah menjamin. Dan ini ramah sosial namanya.

Misalnya, kita punya utang. Utang wajib dibayar. Ketika kita mati, bila tak ada uang yang ditinggalkan. Siapa yang menjaminnya; asuransi. Ini adalah kaji lain dari ramah kehidupan.

Terbujur mayat di rumah gadang, bila dunsanak yang ditinggalkan tak ada uang melaksanakan prosesi pemakaman, maka adat Minangkabau mensahkan untuk menggadaikan pusaka tinggi.

Tapi, ketika badan diri diasuransikan, tak perlu harus menggadaikan pusaka tinggi tersebut, karena ada pihak asuransi yang melakukan pertanggungan biaya untuk pemakaman kita kelak.

Dusnya, ketika kita mati, tak perlu merepotkan keluarga yang ditinggalkan karena semua biaya sudah dijamin oleh pihak asuransi.

Coba tengok elok-elok bentuk atap rumah gadang kita. Ada  yang mengatakan atap rumah gadang meniru Siriah Basusun (daun sirih yang disusun).

Siriah basusun itu simbol apa? Ya, siriah basusun melambangkan rumah gadang sebagai tali penyambung silaturahim dan kekeluargaan. Sebagaimana sirih yang biasanya digunakan sebagai simbol penyambung silaturahim. Asuransi,  juga dalam filosofi silaturahim umat dalam bentuk pertanggungan. Bukankah begitu?

Lihat bangunan rumah gadang.  Bentuknya segi empat. Hampir semua bahagianya terbuat dari kayu dan hasil alam lainnya. Dinding, lantai, tangga, loteng  dan lain-lain. Rumah Gadang dipercaya tahan gempa. Ia tak berpaku.Tapi berpasak. Sebinjat pun tak ada paku yang lekat di kayu rumah gadang kita. Pasak merupakan  tekonologi mutakhir yang digunakan sejak abad lalu oleh nenek moyang kita.

Nagari kita, nagari yang berpotensi gempa. Dalam gempa, rumah gadang kita aman. Insha Allah, ia tak runtuh dihoyak gempa. Aman dan nyaman. Filosofi asuransi memberi rasa aman dan nyaman karena pertanggungan itu tadi. Bila terjadi gempa, buruk disebut, mati badan jiwa, maka pihak asuransi akan segera memberikan pertanggungan kematian. Bantuan  itu dapat digunakan untuk bayar hutang atau biaya prosesi pemakaman.

Bangunan Rumah Gadang digambarkan memiliki ruang ganjil antara 3 hingga 11. Diantaranya terdapat ruangan lepas dan kamar-kamar.

Jumlah kamar bervariasi. Itu tergantung besar kecilnya keluarga yang bernaung di rumah tersebut.  Filosofi rumah gadang, mirip dengan filosofi  besarnya pertanggungan. Ia bervariasi.Tergantung tingkat kemampuan dan nilai guna.

Bentuk bangunan rumah gadang simetris dan meruncing. Pada kedua ujungnya ini digambarkan bagai sebuah kapal besar. Ini adalah simbol dalam filosfi  bahwa rumah gadang adalah pusat kehidupan orang minang. Ia sekaligus sebagai perlambangan tempat berteduh dan berlindung saat mengarungi lautan kehidupan.

Filosofi bentuk bangunan rumah gadang selaras dengan filosofi asuransi yakni;  asuransi adalah kapal besar bagi sebuah pertanggungan dan perlindungan sosial.

Rumah gadang selalu dibuat tinggi menyerupai rumah panggung.Tujuannya agar ruang di bagian bawah bisa digunakan. Pada bagian depan dibuatkan tangga. Pada zaman dahulu di bagian bawah tangga ada batu dan cibuak untuk mencuci kaki.

Kesimpulannya, ruang di rumah gadang memiliki nilai guna dan asas manfaat. Begitu pula dengan filosofi asuransi  yang bernilai jiwa dalam pertanggungan. Ini tentu saja membawa manfaat di kemudian hari.

Coba lihat rumah gadang kita. Di bagian halaman kita akan melihat bangunan tinggi dan ramping bergonjong. Bangunan ini dinamakan Rangkiang.  Rangkiang simbol survival  masyarakat minangkabau. Asuransi tak bisa pula dilepaskan dari filosofi survival kehidupan sosial.

Filosofi asuransi serasai dengan adagium Miangkabau yakni “mancari sabalun hilang, malantai sabalun lapuak maminteh sabalun hanyuik”.

Peribahasa ini adalah sinyalemen kepada kita untuk siap sebelum terjadi risiko paling buruk.Asuransi adalah pertanggungan risiko terburuk dari hidup.

Simak baik-baik kata bijak orang Minangkabau: “Ingek di rantiang ka mancucuak, Tahu di dahan ka maimpok, (Ingat ranting yang akan menusuk, tahu ranting yang akan mehimpit). Artinya, sikap arif dan bijaksana. Filosofi asuransi adalah bagian dari kebijaksanaan dan kearifan di ruang pertanggungan sosial.

Orang Minangkabau adalah orang yang waspada. Ia orang berkearifan. Ia orang yang bijak. Ia pula yang maminteh sabalun hanyuik (memintas sebelum hanyut). Adagium Minangkabau harmonis dengan fingsi dan tujuan keasuransian.

Saya yakin, dunia asuransi akan berkembang pesat di Minangkabau kalau disosialisasikan atau dipasarkan dengan corak kearifan lokal.

Saya menyimak dan mendengar. Di dunia maju atau di Barat, asuransi itu lambang sosial. makin maju dunia, makin dibutuhkan kehadiran asuransi.

Pemain bola diasuransikan. Pilot diasuransikan. Supir diasuransikan. Banyak orang-orang tenar dan terkenal dan orang-orang melakukan pekerjaan berisiko tinggi   bahkan mengasuransikan tiap unsur di tubuhnya hingga  jari pun ia asuransikan.

Syukur alhamdulillah, kini  tiba pula saatnya para tenaga Pendamping Desa mendapat berkah diasuransikan !

Selamat berasuransi para Pendamping Desa kita ! Dan selamat mengikuti pelatihan perasuransian di rumah gadang di Lundang ! (**)

Bagikan