HMA Ingatkan, Pemerintah Hati-hati Dengan Exodus Perantau Wamena

Iwosumbar.com, Padang – Tragedi peristiwa perantau Minang di Wamena, menyentuh perasaan segenap masyarakat Minangkabau baik di rantau maupun di Kampung halaman.

Berita pembakaran dan pembunuhan yang dialami oleh perantau minang di Wamena dalam sekejap sampai keseluruh penjuru Indonesia dimanapun orang Minang berada.

Penggalangan dana pun dilakukan baik dari pemerintah, persatuan kelompok, organisasi, bahkan sampai tukang ojek ikut membantu menjalankan sumbangan demi saudara disana.

Menyikapi gerakan cepat yang dilakukan warga minang Indonesia, menujukan bahwa kesolid-an itu memang telah ada sejak dulu.

Adalah Buya Kharismatik dari Sumatera Barat, H.Masoed Abidin pada media ini juga ikut memberikan pesan dan saran.

Disampaikan nya, karena dana untuk dunsanak di Wamena sudah terkumpul lebih dari 4 M dan berkemungkinan masih terus bergulir tambahan-tambahan dari berbagai kelompok, keluarga paguyuban Minangkabau yang peduli.

“Dan Insyaallah jumlahnya bisa terus bertambah hingga mencapai 10 Miliar”, ujarnya.

Buya Mas’oed Abidin menyarankan pemerintah baik pusat maupun pemerintah Sumatera Barat (Sumbar) untuk menghimbau dunsanak Minang di Wamena untuk tidak begitu saja meninggalkan Papua semuanya.

“Mungkin keluar dari Wamena seketika menjelang kondisi aman terkendali sangat baik dan tepat”, ujarnya melalui pesan Whatsapp pada media ini, Kamis (3/10/2019).

Menurut Buya. Diantara dunsanak kita disana sudah ada yang berdiam di Papua lebih dari 20 tahun bahkan ada yang sudah mencapai 80 tahun sejak orang Minang dibuang ke Digul.

Literasi sejarah perjuangan yang tidak boleh diabaikan.

“Sebaiknya sebagian dari dana yang terkumpul itu dimanfaatkan untuk membantu dunsanak kita untuk bangkit kembali menata kehidupan dan ekonominya, sebagai pelaku pasar dan saudagar Minang di Papua” harap Buya Mas’oed Abidin.

“Pemerintah perlu menguatkan pemahaman bahwa Papua itu adalah kita NKRI”. Tegas Buya.

Disampaikan nya, Dengan meninggalkan Papua seluruhnya berarti, eksodus yang akan membawa multi dampak. Dan itu akan cukup membahayakan.

“Moga masyarakat dan para pemuka agama serta pemimpin kita cepat menyadarinya”, terangnya.

Boleh saja sementara meninggalkan Wamena, sampai situasi aman dan terkendali, tetapi tetaplah di bumi Cendrawasih tanah Papua.

Buya Mas’oed Abidin menambahkan, bila keseluruhan pendatang meninggalkan Papua, hati hati satu ketika akan menjadi _etnic cleansing_ seperti yang pernah terjadi di Bosnia Harzrgovina (1980).

“Jika itu terjadi..,Dan ini pasti diharapkan oleh orang yang tidak senang kepada nasionalisme NKRI”, tutupnya.

Bagikan