Peristiwa

Taman Kehati Emil Salim Jadi Ikon Baru Kota Sawahlunto Sumbar

5
×

Taman Kehati Emil Salim Jadi Ikon Baru Kota Sawahlunto Sumbar

Sebarkan artikel ini

Iwosumbar.com Padang – Usai melewati proses Panjang, Taman Keanekagaraman Hayati atau Taman Kehati di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat Rabu 8 Juni 2022 dicanangkan. kemudian diberi nama Taman Kehati Emil Salim.

Taman Kehati Emil Salim, dibuat dengan memanfaatkan lahan eks tambang batu bara. Berada di lahan tidur bekas galian tambang batu bara peninggalan kolonial Belanda seluas 24 hektare, taman Kehati Emil Salim ini.

Selain akan digunakan sebagai tempat pencadangan sumber daya alam hayati lokal, juga dapat menjadi objek wisata bahkan menjadi sistem penyangga tempat penelitian.

Taman Kehati Emil Salim di kota multi etnis yang terkenal dengan julukan kota arang ini, terwujud berkat kerja sama antara Yayasan KEHATI dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Pemerintah kota Sawahlunto.

Emil Salim menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak. Taman kehati di Kota Sawahunto ini, terwujud berkat kolaborasi yang baik antar semua pihak yang terlibat.

“Terlebih dahulu, saya mohon maaf tidak bisa hadir secara pribadi pada acara pembukaan taman kehati dengan alasan mempertimbangkan kesehatan pada usia yang sudah lanjut. Namun, hati saya dekat dengan Sawahlunto,” kata Emil Salim, Rabu 8 Juni 2022.

Emil Salim mengatakan, Sawahlunto merupakan daerah yang sangat subur yang juga memuat bahan baku batubara dengan kapasitas yang cukup banyak.

Kandungan batu bara berkualitas terbaik itu mengundang pemerintah kolonial membongkar Sawahlunto menjadi area pertambangan pada 1860.

Pembukaan tambang batubara ini, tentu saja berdampak kepada kerusakan alam. Apalagi, batubara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat di perbaharui, alias, habis sekali pakai. Lahan bekas galian tambang pun akan gersang akibat proses pengerukan kedalam perut bumi.

Yayasan KEHATI memandang bahwa, area bekas tambang itu sebenarnya memiliki potensi untuk masa depan bila dapat dijadikan kawasan pencadangan sumber daya alam hayati lokal.

Manajer Program Ekosistem Kehutanan Yayasan KEHATI Rio Rovihandono menjelaskan, dalam proses penyusunan master plan, konsultan bersama parapihak di Sawahlunto menggali konsep pembangunan taman kehati dari lahan ex tambang di Sawahlunto itu sebagai titik temu antara masa depan yang didasarkan atas pengalaman masa lampau sebagai area tambang batubara terbesar di Sumatera Barat.

Konsep itu diilhami dari “Lorong Item”, pembangunan lubang tambang masa lalu disaat Kolonial Belanda masuk ke kota Sawahlunto, menuju “Lorong Ijo”, tajuk pepohonan di taman sebagai simbol transformasi pembangunan lestari.

Berkaitan dengan tumbuhan yang akan ditanam dan dikembangkan di area Taman Kehati Emil Salim ini, KEHATI melibatkan beberapa konsultan ahli vegetasi yang berasal dari Badan Riset dan Inovasi (BRIN).

Beberapa spesies lokal tumbuhan alami sebagai tumbuhan pioner di wilayah tersebut, diantaranya ada Kelayu hitam (Arytera littoralis), Paku Hijau (Blechum orientale) dan, Kanderi (Bridelia monoica).

Tak hanya itu saja, tim ahli juga berhasil menemukan spesies pohon hutan seperti pohon kayu musang (Alangium ferrugineum), nyamplung (Calophyllum inophyllum), dan asam kandis (Garcinia xanthocymus).

” Umumnya, spesies yang tumbuh spontan tanpa ditanam itu merupakan spesies asli di wilayah tersebut. Spesies-spesies yang ditemukan akan diperbanyak melalui nursery di Taman Kehati ini nantinya, ” terangnya .

Untuk Spesies tanaman yang akan ditanam mengacu pada beberapa aturan, yakni Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 3 tahun 2012 dan Keputusan MenLHK Nomor SK. 1272/Menlhk/Setjen/Pla.3/12/2021 tentang penetapan karakteristik bentang alam dan vegetasi alami peta wilayah ekoregion Indonesia skala 1:250.000. Taman kehati di Sawahlunto ini, paling sedikit akan menampung sekitar 9.600 hingga 10.000 pohon.

“Nah, luasan zona alam atau kawasan eks bekas tambang batubara itu nantinya, lebih banyak diperuntukkan bagi pendidikan, kebudayaan dan kegiatan ekonomi lokal,” tutup Rio Rovihandono. (rei)