Minggu, Oktober 2

Dirut RSUP M Djamil Padang Jelaskan Persoalan Kasus Kembar Siam

IWOSUMBAR.COM, PADANG – Dalam kasus kembar siam. Direktur Utama RSUP M Djamil Padang DR . dr . Yusirwan Yusuf , Sp.B , Sp.BA (K), kepada media menjelaskan, saat ini pihaknya telah membentuk tim guna penanganan terhadap bayi kembar siam (Conjoined Twins) yang tengah rawat.

Dikatakan, RSUP M Djamil telah membetuk tim yang terdiri dari 25 sub spesialis dalam penanganan bayi kembar siam anak dari pasangan Adrianto dan Ayu Septiani warga Korong Patalangan, Nagari Limau Puruik, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman.

“Terdiri dari dokter spesialis anak, jantung, paru, bedah plastik, bedah jantung, syaraf dan lain-lain alan terlibat dalam penanganan bayi kembar siam ini,” ucapnya. Jumat (23/9)

Lebih lanjut dikatakan, untuk biaya penanganan bayi kembar siam ini sepenuhnya di tanggung oleh RSUP M Djamil Padang.

“Biaya penanganan bayi kembar siam ini, sepenuhnya ditanggung oleh RSUP M Djamil Padang. Tetapi, saya sudah dihubungi oleh Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa. bahwa beliau mau membantu biaya penanganan bayi kembar siam yang lahir dan dirujuk dari RSUD dr Sadikin, Kota Pariaman pada Rabu (21/9) lalu,” jelasnya.

Yusirwan Yusuf menambahkan, pada saat ini bayi kembar siam yang ditangani RSUP M Djamil dalam keadaan kritikal. Oleh karena itu, pihaknya pada saat ini sedang melakukan investigasi oleh tim yang telah dibentuk RSUP M Djamil.

“Bayi kembar siam yang sedang ditangani RSUP M Djamil Padang dalam keadaan kritikal, bayi tidak bisa lepas dari ventilator. Selain itu, bayi kembar siam yang ditangani RSUP M Djamil Padang dalam keadaan asimetrikal, artinya organ tubuhnya tidak lengkap,” paparnya.

Dikatakan, tim yang dibentuk oleh RSUP M Djamil Padang belum bisa memutuskan tindakan operasi terhadap bayi kembar siam. Hal ini dikarenakan, organ tubuh bayi belum matang untuk dilakukan tindakan operasi.

Sebelumnya kasus kembar siam yang tengah ditangani termasuk langka. Dimana Bayi kembar siam tersebut memiliki kepala dua, tangan dua, kaki dua, anus satu, dan berjenis kelami laki-laki. Selain itu, atrium jantungnya juga bocor.

“Diprediksi operasi akan berlangsung selama 8 jam. Kita pada saat ini terus berpacu dengan waktu dalam penanganan bayi kembar siam ini. Yang jelas, bayi kembar siam ini tidak bisa dipisahkan hidup kedua-duanya, karena organ tubuhnya tidak komplit,” terangnya .

RSUP M Djamil Padang selama ini telah menangani lima kasus bayi kembar siam.

“Yang saya ingat, satu bayi meninggal karena gagal jantung, dan kembarannya meninggal 20 hari kemudian,” tambahnya.

Dijelaskan, Kembar siam adalah anak kembar yang berasal dari 1 embrio, namun tidak terpisah dengan sempurna satu sama lain. Kembar siam terjadi ketika pembelahan janin kembar monozigot (satu sel telur) terlambat dan akhirnya tidak selesai secara sempurna. Proses pembelahan ini biasanya terjadi pada 8 hingga 12 hari setelah sel telur bertemu sperma.

Jika terlambat dan melebihi jangka waktu, pembelahan cenderung terhenti sebelum proses selesai dengan sempurna. Akibatnya, bayi kembar akan terlahir menempel satu sama lain.

Kembar siam sendiri merupakan fenomena langka yang hanya terjadi 1 pada 50.000 sampai 60.000 kelahiran. Penyebab dan faktor risiko terjadinya kembar siam ini hingga saat ini tidak diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan sangat sedikitnya kasus yang terjadi sehingga tidak bisa diteliti.

Dalam berbagai kasus, sebagian besar bayi kembar siam meninggal ketika dilahirkan, atau beberapa saat setelah dilahirkan.

Untuk itu, Yusirwan Yusuf menghimbau agar selalu melakukan kontrol kehamilan rutin untuk memantau kesehatan ibu dan janin. (**)

Tinggalkan Balasan