PADANG – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah mengatakan pentingnya penguatan fikih wasathiyah (moderat) sebagai fondasi dalam menjaga persatuan umat sekaligus menjawab berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang di era modern. “Pemahaman keislaman yang moderat, argumentatif, dan berorientasi pada kemaslahatan menjadi kebutuhan penting di tengah dinamika kehidupan masyarakat”, ujarnya, saat membuka Nadwah Fiqhiyyah Internasional bersama ulama dan pakar syariah asal Suriah, Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm, oleh Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Sumbar di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (29/7/2026).
Forum ilmiah bertema “Prinsip-prinsip Metodologis dalam Pemanfaatan Pendapat Fuqaha pada Isu-Isu Fikih Kontemporer” itu diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas para dai, dosen, guru pondok pesantren, dan praktisi keislaman dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar.
“Umat harus disuguhi pemahaman yang menghadirkan kedamaian, ketenangan, serta menjaga persatuan. Adapun pembahasan yang bersifat mendalam memiliki forum tersendiri di kalangan para ulama. Alhamdulillah, hal itu juga ditekankan oleh Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm,” katanya.
Dikatakan, kehadiran Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm di Sumbar menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat tradisi dialog ilmiah sekaligus memperkaya wawasan keislaman para dai, akademisi, dan pendidik di daerah.
Suriah memiliki kedekatan historis dengan Indonesia dalam tradisi keilmuan Islam, terutama karena mayoritas masyarakatnya menganut mazhab Syafi’i yang juga menjadi rujukan utama umat Islam di Indonesia.
Gubernur berharap IKADI Sumbar terus menjadi garda terdepan dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya terhadap berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang.
“Kami berharap IKADI terus memperkuat pemahaman fikih yang wasathiyah dan mampu merespons berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat,” katanya.
Dikatakan berbagai isu keagamaan yang muncul di tengah masyarakat membutuhkan jawaban yang berlandaskan metodologi fikih yang kuat, argumentatif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, forum- forum ilmiah seperti Nadwah Fiqhiyyah dinilai penting untuk memperkuat kapasitas para dai dan akademisi dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat.
Sementara anggota DPR RI Rahmat Saleh yang juga hadir juga menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan Nadwah Fiqhiyyah.
Wakil Ketua IKADI Sumbar, Muhammad Rido menyampaikan apresiasi kepada Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm yang berkenan hadir memenuhi undangan setelah menempuh perjalanan panjang dari Damaskus menuju Padang. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Mahyeldi atas dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Ketua Panitia, Dr. Defrinal, MA, menjelaskan bahwa Nadwah Fiqhiyyah diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas dosen, guru, pengasuh pondok pesantren, serta dai dari seluruh kabupaten dan kota di Sumbar.
“Forum ini dirancang untuk memperdalam kapasitas para dai, akademisi, dan pendidik dalam memahami persoalan fikih kontemporer langsung dari ahlinya,” katanya. (Bud)











