BeritaPolitik

Tanam Hulu Galapagos, Upaya Kurangi Risiko Bencana di Batang Kuranji

×

Tanam Hulu Galapagos, Upaya Kurangi Risiko Bencana di Batang Kuranji

Sebarkan artikel ini
(Ket Photo: Tanam Hulu Galapagos, Upaya Kurangi Risiko Bencana di Sungai Batang Kuranji)

PADANG — Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, mulai dari mitigasi, evakuasi hingga pembangunan infrastruktur. Namun, Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia memilih pendekatan lain dengan memperkuat kawasan hulu melalui penanaman pohon di daerah aliran Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.

Program tersebut dikemas dalam Festival Tanam Hulu, sebuah gerakan restorasi kawasan hulu yang menargetkan penanaman hampir 60 ribu bibit di empat lokasi prioritas, yakni Lambung Bukik, Gunung Nago, Gunung Sarik dan Batu Busuk.

Keempat lokasi tersebut berada di Kecamatan Pauh dan Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Program ini dilatarbelakangi bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang pada akhir tahun lalu. Bencana tersebut menyebabkan 12 orang meninggal dunia dan lebih dari 30 ribu warga terdampak.

Wali Kota Padang, Fadly Amran, mengatakan dampak bencana tidak hanya berupa korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Bencana juga menimbulkan sedimentasi fluvial berupa endapan lumpur dan pasir di sepanjang aliran sungai.

“Upaya pengurangan risiko bencana tidak bisa dilakukan dari satu sisi saja, tetapi harus dilaksanakan di semua lini,” kata Fadly.

Libatkan banyak pihak selama tujuh bulan
Ketua Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia, Hendra Amriz, mengatakan Festival Tanam Hulu dirancang sebagai program komprehensif untuk mendorong pengurangan risiko bencana sekaligus memulihkan kawasan hulu daerah aliran sungai.

Baca Juga  Rano Karno Resmikan Gedung Soekarno M. Noor di UIN Bukittinggi

Program tersebut dilaksanakan dalam tiga klaster yang saling berkaitan selama 30 minggu atau sekitar tujuh bulan.

Klaster pertama berupa konsolidasi pemangku kepentingan. Kegiatan di dalamnya meliputi pertemuan tatap muka, diskusi, pemetaan kawasan dan sosialisasi.

Langkah tersebut ditujukan untuk menyatukan persepsi berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, akademisi, organisasi nonpemerintah hingga masyarakat.

Klaster kedua merupakan edukasi lingkungan hidup melalui coaching clinic, pendampingan penyusunan proposal serta seleksi peserta. Tahapan ini diharapkan memastikan peserta memiliki kesiapan teknis dan ekologis sebelum melakukan penanaman.

Sementara klaster ketiga berupa kompetisi restorasi hulu daerah aliran sungai. Dalam tahapan ini, peserta akan mengikuti proses inkubasi bibit, aksi penanaman, geo-tagging, perawatan tanaman, penjurian hingga penganugerahan pemenang.

Menariknya, penilaian peserta akan didasarkan pada survival rate atau tingkat keberlangsungan hidup tanaman, sehingga keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

Disebut menjadi program unik di Indonesia
Anggota DPR RI daerah pemilihan Sumatera Barat, Andre Rosiade, mengapresiasi program yang digagas Galapagos tersebut.

Menurut Andre, program itu telah dipersiapkan secara matang, termasuk dari sisi keterlibatan peserta, pemilihan jenis bibit yang sesuai dengan kawasan hingga pemantauan tanaman selama tujuh bulan.

“Karena itu saya berkenan menghadiri acara tanam perdana yang dilakukan pada sore ini,” ujar Andre.

Baca Juga  Pemko Padang Relokasi Cepat Warga Terdampak Banjir di Tabing Banda Gadang

Ia menilai konsep kompetisi yang disertai pemantauan tingkat keberhasilan tanaman membuat Festival Tanam Hulu memiliki pendekatan yang berbeda.

Puncak kegiatan nantinya adalah penentuan pemenang berdasarkan sejumlah kriteria yang telah disepakati. Peserta tidak hanya dituntut menanam, tetapi juga memastikan tanaman dapat tumbuh dan bertahan.

Penanaman perdana Festival Tanam Hulu dilaksanakan pada Rabu sore, 9 September 2026, di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Kegiatan tersebut menjadi awal dari rangkaian program restorasi kawasan hulu yang akan berlangsung selama sekitar tujuh bulan.

Galapagos sendiri memiliki sejarah panjang dalam kegiatan pelestarian alam. Organisasi sosial tersebut berawal dari kepedulian sejumlah siswa SMA Negeri 1 Padang pada 1984 melalui kegiatan ekstrakurikuler Sispala Galapagos.

Kedekatan dan kepedulian terhadap lingkungan yang terbangun sejak saat itu terus dipertahankan hingga kini.

Dalam perkembangannya, Galapagos kemudian hadir dalam tiga organisasi, yakni Sispala Galapagos, Perkumpulan Galapagos dan Yayasan Galapagos. Ketiganya memiliki bentuk kegiatan yang berbeda, namun tetap memiliki tujuan besar yang sama, yakni mendorong pelestarian alam Indonesia.

Melalui Festival Tanam Hulu, Galapagos kini membawa semangat tersebut ke upaya yang lebih terukur, dengan memadukan penanaman, edukasi, pemantauan dan kompetisi restorasi sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana di kawasan hulu Sungai Batang Kuranji.