BeritaEkonomiNasional

Rupiah Tembus Rp18.024 per Dolar AS, Rekor Terlemah, Ekonomi Kian Tertekan

×

Rupiah Tembus Rp18.024 per Dolar AS, Rekor Terlemah, Ekonomi Kian Tertekan

Sebarkan artikel ini
(Ket Photo: Rupiah Tembus Rp18.024 per Dolar AS, Rekor Terlemah, Ekonomi Kian Tertekan)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Indonesia menembus level Rp18.024 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS, tetapi juga dari mata uang regional. Dolar Singapura (SGD) tercatat menembus Rp14.043 per SGD, sementara Ringgit Malaysia (MYR) menguat ke level Rp4.488 per ringgit.

Berdasarkan data pasar keuangan terkini, pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama menunjukkan meningkatnya tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi domestik.

Terhadap dolar AS, rupiah berada di kisaran Rp18.024 per dolar setelah sebelumnya masih bertahan pada level Rp17.900-an. Sementara itu, kurs dolar Singapura mencetak rekor baru di atas Rp14.000 per SGD, didorong oleh kebijakan moneter ketat yang diterapkan Monetary Authority of Singapore (MAS). Adapun ringgit Malaysia terus menunjukkan performa yang lebih kuat dibandingkan rupiah dalam beberapa bulan terakhir dengan nilai tukar mencapai Rp4.488 per MYR.

Baca Juga  ANTUSIAS, RATUSAN MAHASISWA VAKSIN di UBH

Pelemahan rupiah diperkirakan akan memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor strategis. Salah satu yang paling terasa adalah meningkatnya biaya impor dan bahan baku industri.

Banyak perusahaan manufaktur yang masih bergantung pada komponen impor kini harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Selain itu, tekanan juga berpotensi dirasakan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Melemahnya rupiah menyebabkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah menjadi lebih besar ketika dikonversi ke mata uang domestik. Kondisi ini juga dapat meningkatkan kebutuhan subsidi energi, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan sejumlah komoditas energi lainnya.

Sektor pendidikan dan perjalanan internasional turut terdampak. Kenaikan nilai dolar Singapura dan ringgit Malaysia membuat biaya pendidikan mahasiswa Indonesia di kedua negara tersebut semakin mahal. Biaya perjalanan, akomodasi, hingga logistik perdagangan lintas negara juga diperkirakan mengalami kenaikan.

Baca Juga  Operasi Ketupat 2025, Pastikan Mudik Aman dan Nyaman

Di sektor perdesaan, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai kebutuhan pertanian yang masih bergantung pada impor, seperti bahan baku pupuk dan pakan ternak. Akibatnya, margin keuntungan petani dapat tergerus dan daya beli masyarakat berisiko menurun.

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna meredam volatilitas yang berlebihan dan memastikan ketersediaan likuiditas dolar AS.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan tetap menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Optimisme tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, serta rasio utang yang masih berada dalam batas aman.

Pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor dan meningkatkan arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) guna memperkuat pasokan devisa serta menopang stabilitas ekonomi pada semester kedua tahun 2026.